WARNING ⚠️ Kalandra menarik napas dalam-dalam, dadanya naik-turun lebih cepat dari biasanya. Pelukannya masih erat, tapi aku bisa merasakan ketegangan di tubuhnya—otot-otot lengannya mengeras, napasnya yang hangat menyapu rambutku jadi sedikit lebih berat. Dia tidak langsung melepaskan pelukan, malah menempelkan bibirnya ke pelipisku lama sekali, seolah sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Aku mengangkat wajah, menatapnya dari dekat. Matanya sudah gelap pekat, pupil melebar, dan ada kilau hasrat yang tidak lagi bisa disembunyikan. Pipinya sedikit memerah, rahangnya menegang pelan. "Mas..." panggilku lembut, jari-jariku menyentuh dagunya. "Kamu ... lagi nahan banget ya?" Dia tertawa kecil, suaranya serak dan rendah. "Susah nggak nahan, Alea. Lihat kamu begini, dengar desahan

