Aku mengangguk cepat. Wajahku pasti sudah merah padam. "Boleh. Tapi pelan ya, Mas. Aku sudah basah sekali dari tadi." Dia menghela napas panjang, seolah kata-kataku baru saja menghancurkan sisa kendalinya. Dengan gerakan hati-hati, dia menurunkan celana dalamku perlahan. Jari-jarinya langsung menyentuh bagian paling sensitifku. Dan benar saja, aku sudah licin sekali. "Ya Tuhan, Alea," desisnya dengan suara penuh kekaguman dan hasrat. "Kamu benar-benar kangen ya?" Aku hanya mengangguk, terlalu malu untuk menjawab dengan kata-kata. Kalandra mulai mengelusku dengan ritme sangat lambat. Dia menggunakan dua jari untuk membelai kelopak dan titik paling sensitif secara bergantian. Tidak ada dorongan masuk. Dia tahu aku tidak boleh terlalu banyak penetrasi dalam posisi ini. Hanya se

