Kalandra yang sejak tadi berdiri diam seperti patung pualam, tiba-tiba merasakan dadanya berdenyut menyakitkan. Jika Alea merasa hancur karena kehilangan sosok sahabat, Kalandra merasa hancur karena rasa bersalah yang teramat dalam. Ia merasa gagal. Ia merasa bodoh karena meski ia selalu tahu Alisa bukan darah dagingnya, ia sama sekali tidak menduga bahwa di balik wajah cantik dan manja gadis itu, tersimpan jiwa iblis yang begitu tega merancang kehancuran sahabatnya sendiri. Rahang Kalandra mengeras, tangannya yang menggenggam bahu Alea bergetar karena emosi yang tertahan. Suaranya saat berbicara terdengar seperti hembusan angin kutub—dingin, tajam, dan mematikan. "Aku tidak pernah mengira..." Kalandra menjeda, matanya berkilat gelap menatap kekosongan. "Bahwa demi sebuah sinar palsu,

