Tubuhnya menegang kaku di atasku. Erangan rendah dan dalam itu berubah menjadi raungan tertahan. Aku bisa merasakan denyutan kuat di tanganku, di mulutku, sebelum dia menarik diri dengan kasar di detik terakhir. Napasnya terengah-engah. Aku merasakan semburan panas yang deras itu mendarat di dadaku. Menyiram kulitku, melapisi renda hitam lingerieku dengan cairannya yang kental dan hangat. Dia ambruk di sampingku, tapi aku tidak. Napas ku sendiri tersengal, tapi bukan karena lega. Itu karena frustrasi. Panas di antara kedua pahaku, yang sejak tadi berdenyut hebat menuntut untuk diisi, kini terasa menyakitkan. Melayaninya tidak memadamkan apiku. Itu justru menyulutnya lebih besar. Aku masih basah. Aku masih menginginkannya. Gairah ini terasa memalukan. Aku mendorong tubuhnya yang m

