22 - Oh, Om...

1289 Kata

Kata yang meluncur dari bibirnya terasa seperti cambuk sekaligus belaian. Dia memintaku menyepakati sebuah kemustahilan—menjadi wanita simpanannya, sekaligus tetap menjadi sahabat putrinya. Ada racun manis dalam tawaran itu, dan aku tahu aku takkan bisa menjawabnya dengan kata-kata. Jadi, alih-alih menjawab, aku membungkam mulutnya dengan mulutku. Ini bukan ciuman lembut. Ini adalah gempuran. Serangan putus asa dari seorang wanita yang tahu dia sudah kalah. Erangan rendah dan berat lolos dari tenggorokannya. Ciuman itu dibalasnya dengan intensitas yang sama liarnya. l Aku bisa merasakan detak jantungnya yang menggila di bawah telapak tanganku yang masih menempel di dadanya. Gairah ini memabukkan, menenggelamkan semua suara di kepalaku, menyingkirkan bayangan Alisa untuk sementara

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN