Aku memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan segera mengatur napas agar tetap tenang. Aku tidak boleh terlihat panik di depan Alea, apalagi setelah kabar bahagia dari dokter tadi. Aku berbalik dan mendapati Alea masih berdiri di dekat pintu mobil, menatapku dengan kening berkerut. "Mas, ada apa? Kok lama sekali teleponnya?" tanya Alea sambil memiringkan kepalanya. Aku memaksakan senyum tipis lalu melangkah mendekat. Aku membukakan pintu mobil untuknya dengan gerakan lembut. "Ada urusan sedikit di gudang pengiriman, Sayang," jawabku berbohong demi ketenangannya. "Dokumen barang retur ada yang bermasalah, tapi asistenku bilang sudah bisa diatasi. Sekarang kita pulang ya, kamu harus segera istirahat." "Oh, syukur kalau begitu. Aku pikir ada masalah besar," sahut Alea sambil masuk k

