Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak berubah mencekam. Alea masih terpaku di depan wastafel, kedua tangannya gemetar hebat mencengkeram pinggiran keramik. "Mas... ini banyak banget. Kenapa keluarnya banyak banget?" suara Alea meninggi, nada bicaranya pecah oleh isak tangis yang mulai meledak. Kalandra melangkah mendekat, namun kakinya seolah tertanam di lantai. Pria yang biasanya sangat sigap menghadapi masalah bisnis bernilai miliaran itu kini hanya bisa terpaku menatap genangan bening di bawah kaki istrinya. Otaknya mendadak kosong. "Tarik napas, Sayang. Tarik napas dulu," gumam Kalandra kacau. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. "Sakit, Mas! Perutku rasanya diperas!" Alea mengerang, tubuhnya mulai merosot. Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dengan kasar. Ibu M

