Matahari pagi mulai menembus gorden, membuat kamar rawat ini tidak lagi terasa mencekam. Tubuhku masih terasa kaku, dan setiap kali aku mencoba bergerak, rasa nyeri di kepala langsung mengingatkanku bahwa aku belum sepenuhnya pulih. Tapi setidaknya, pagi ini aku merasa lebih tenang. Pintu terbuka pelan, seorang perawat masuk membawa nampan berisi bubur dan segelas air putih. "Selamat pagi, Nyonya Alea. Sudah merasa lebih baik?" tanya perawat itu sambil mendekat. "Sudah, suster. Jauh lebih baik dari semalam," jawabku pelan. Suaraku masih terasa parau, tapi setidaknya aku sudah bisa bicara tanpa merasa sesak. Perawat itu membantuku sedikit menaikkan sandaran tempat tidur agar aku bisa duduk. "Syukurlah. Nyonya harus semangat untuk pulih. Tuan Kalandra, beliau sangat luar biasa sigap.

