Kalandra mengerang tertahan, kepalanya mendongak ke belakang dengan urat-urat leher yang menegang hebat saat aku mulai membebaskan miliknya yang sudah menegang sempurna dari balik pakaiannya. Ukurannya yang gagah dan panas seolah menunjukkan betapa keras perjuangannya menahan diri sejak tadi. Aku tidak menunggu lama. Dengan gerakan yang berani, aku membawa miliknya ke dalam mulutku. Sensasi hangat dan basah itu seketika membuat Kalandra menyentakkan pinggulnya, jemarinya meremas sprei dengan sangat kuat. Suara kecapan basah memenuhi kamar yang sunyi itu, memberikan irama gairah yang semakin memuncak. Namun, aku ingin memberinya lebih. Aku sedikit menjauhkan wajahku, lalu menggunakan kedua belah dadaku yang masih polos dan hangat untuk menjepit miliknya di tengah-tengah. Aku menghi

