Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungku yang masih berpacu liar. Kalandra adalah yang pertama bergerak. Ia melepaskan pelukannya, sedikit menjauh dariku, dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Ia mengusap wajahnya dengan tangan, ekspresinya kembali keruh dan sulit dibaca. Aku segera merapikan gaun yang sempat tersingkap di pinggangku, berusaha menutupi diri dengan cepat. Aku meraih dasi Kalandra yang terlepas dan mengulurkannya padanya. Kalandra menerimanya, tatapannya kini kembali fokus padaku. Ia merangkak maju, mendorongku lembut kembali ke sandaran sofa. Ia menundukkan kepala, dan wajah kami kembali berdekatan. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat dan aroma maskulin yang begitu kuat. Tepat saat bibir kami hampir bertemu kembali, suara ketukan pi

