Pintu master suite tertutup dengan dentuman berat yang mengunci dunia di luar sana. Dewangga tidak membuang waktu. Dengan langkah lebarnya, ia berjalan menuju ranjang king size dengan seprai sutra berwarna gelap yang tampak begitu mewah namun mengintimidasi. Ia membaringkan tubuh Aruntala di tengah ranjang dengan gerakan yang penuh kehati-hatian, namun tatapannya tetap tajam, mengunci Aruntala yang kini terbaring di bawah bayang-bayang pria itu. Aruntala merasa kecil di atas ranjang yang luas ini, namun ia tidak berniat sedikit pun untuk berlari. Ia menginginkan pria itu, itulah fakta pahitnya. Tanpa melepaskan pandangannya dari mata Aruntala, Dewangga mulai melepas jubah sutranya. Jubah itu jatuh ke lantai, membiarkan tubuh pria itu sepenuhnya terpampang di bawah cahaya lampu tidur yan

