Dewangga tidak lagi memberi jeda. Dengan napas yang memburu seirama dengan detak jantung mereka yang berpacu, ia menempatkan dirinya tepat di titik yang paling dinantikan. Ia menatap mata Aruntala yang kini berkabut penuh hasrat, seolah ingin memastikan wanita itu sepenuhnya sadar akan apa yang akan terjadi. “Kau begitu basah. Sangat siap untukku, Aruntala...” bisik Dewangga dengan suara parau yang sarat akan d******i. “Katakan padaku kau milik siapa malam ini.” “Dewa... aku milikmu... hanya milikmu,” jawab Aruntala dengan suara yang nyaris hilang, napasnya memburu tak karuan. Tanpa menunggu lebih lama, Dewangga menghentakkan dirinya dalam penyatuan itu. Aruntala tersentak, punggungnya melengkung tajam saat rasa nyeri yang tajam dan asing menyerang inti tubuhnya. Ia mencengkeram leng

