Suster Anna mengembuskan napas panjang, gurat kecemasan makin dalam di wajahnya. Ia menatap Aruntala dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara sayang dan rasa tidak setuju yang tertahan. “Aku tidak terlalu mengenal Herra secara pribadi, Aru,” aku Suster Anna pelan. “Yang aku tahu, Herra adalah cinta pertama Dewangga, dan satu-satunya wanita di hidupnya sebelum aku mendengar kabar darimu hari ini.” Ia menjeda kalimatnya sejenak, seolah menimbang setiap kata. “Aku tidak akan menghakimi keputusanmu atau Dewangga, Aru. Tapi jujur saja, aku juga tidak bisa begitu saja menerimanya.” Suster Anna meraih lengan Aruntala, menggenggamnya lembut seolah ingin menyalurkan kekuatan sekaligus peringatan. “Sebagai seseorang yang mengenal karakter Dewangga sekaligus mengenalmu cukup baik,

