Bandara Internasional Soekarno-Hatta tampak sibuk seperti biasa, namun atmosfer di terminal kedatangan internasional mendadak terasa lebih dingin saat sosok wanita dengan kacamata hitam besar dan trench coat berwarna krem melangkah keluar. Savita Herra. Ia berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan aura supermodel yang sangat kental, meskipun hatinya sedang dipenuhi dengan rencana busuk. Tidak ada koper besar yang ia bawa sendiri karena eorang asisten yang ia sewa khusus sudah mengurus segalanya di belakang. Herra sengaja tidak mengabari siapa pun, bahkan Dewangga sekalipun. Ia ingin memberikan “kejutan” yang tidak akan pernah dilupakan oleh suaminya itu. Begitu menghirup udara Jakarta yang lembap, Herra menyeringai tipis. Ia merogoh ponsel dari tas branded-nya dan mengetik sebuah

