Malam semakin larut ketika Aruntala baru saja meletakkan Elnino yang sudah terlelap ke dalam boks bayinya. Ia tidak langsung beranjak. Melihat bayi malang yang tengah tertidur begitu lelap itu, pikirannya kembali berkecamuk pada banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini di hidupnya. Entah bagaimana, dari sekian banyak manusia, ia tidak tahu mengapa Tuhan memilih dirinya sebagai orang yang menyaksikan kepura-puraan Herra. Lebih jquh dari itu, ia juga mengetahui mengenai perselingkuhan wanita itu. Padahal, bukankah lebih baik jika ia tidak tahu apa-apa? Bukankah akan lebih mudah bagi Aruntala ketika dirinya tidak terlibat terlalu jauh lagi diantara hubungan Dewangga dan Hera? Bukan apa-apa, itu sama saja menghambat langkahnya untuk benar-benar menjauh dari Dewangga dan melupakan pria itu unt

