Suara napas mereka yang masih tersengal perlahan mulai beraturan. Di bawah selimut yang sama, Aruntala menyandarkan kepalanya di d**a bidang Dewangga, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan mulai stabil. Namun, ketenangan itu seketika pecah saat suara berat Dewangga memecah keheningan. “Aru?” “Ya?” jawab Aruntala lirih, tangannya masih mengusap sisa keringat di bahu Dewangga. “Apa ada sesuatu yang terjadi?” Aruntala tertegun selama beberapa detik. Ia mendongak perlahan, menatap mata Dewangga yang kini menyorotnya dengan penuh selidik. Tidak mungkin Dewa mencurigainya, kan? Apakah sikapnya terlalu berlebihan? Aruntala kemudian menggeleng pelan di pelukan Dewangga, berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa saja. “Tidak ada, kenapa memangnya?” “Kau... tidak seperti

