Setelah merasa tenang, Aruntala mendorong kereta bayi Elnino dengan perlahan, berusaha mencari ketenangan di area koridor yang menuju ke taman belakang. Suara decitan roda kereta bayi itu nyaris tak terdengar di atas marmer mahal yang megah. Namun, langkahnya mendadak terkunci saat ia melewati tikungan. Aruntala menarik mundur kereta bayinya, dan bersembunyi dibalik tembok sambil berusaha mencuri-curi dengar. Ia bukan tipikal yang doyan menguping pembicaraan orang lain namun, suara pria dari lawan bicara Herra membuat Aruntala melakukannya. Apalagi suara itu jelas bukan suara Dewangga dan lagi ... cara pria itu berbicara, terdengar sangat... intim. “Sabar, Sayang... Aku juga merindukanmu. Kau tahu kan betapa sulitnya aku harus berpura-pura menangis di depan Dewangga semalam?” suara Herr

