Oetman memandu Aruntala menyusuri lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan klasik bernilai fantastis. Langkah kaki Aruntala yang memakai heels menciptakan bunyi denting pelan di atas marmer, satu-satunya suara yang memecah keheningan rumah yang terasa begitu sunyi namun mencekam. “Ini kamar Anda, Nona Aruntala,” ujar Oetman sambil membukakan pintu kayu jati yang kokoh. Aruntala melangkah masuk dan hampir kehilangan napas. Kamarnya saja sudah dua kali lipat lebih besar dari seluruh luas panti asuhan tempat ia tumbuh. Furnitur serba mewah, ranjang king-size dengan sprei sutra, dan jendela besar yang menampilkan pemandangan taman belakang yang luas. Namun, perhatian Aruntala segera beralih pada sebuah pintu ganda di sisi kanan kamar. “Apa itu?” tanya Aruntala penasaran. Oetman mela

