“Katakan... Katakan bahwa kau juga mencintaiku, Aru...” pinta Dewangga dengan nada yang nyaris terdengar seperti permohonan. “Aku tidak ingin hanya memiliki tubuhmu. Aku ingin tahu bahwa hatimu pun sudah berada di tempat yang sama dengan hatiku.” Aruntala tertegun. Di hadapannya, Dewangga Argaven Langston—pria yang biasanya begitu dingin, kaku, dan penuh kuasa—kini terlihat begitu rentan hanya untuk menantikan satu kalimat darinya. Semua ketakutan akan status ‘orang ketiga’ atau cemoohan orang lain seolah menguap, kalah oleh rasa tulus yang terpancar dari mata pria di depannya. Haruskah ia percaya pada Dewangga, dan melabuhkan hatinya pada pria itu? Aruntala menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan suaranya yang sempat hilang. Ia menatap Dewangga dengan segala kejujuran yang ia mil

