Malam itu, suasana di ruang bayi begitu tenang, hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di sudut ruangan. Elnino sudah terlelap pulas di dalam box-nya, napasnya teratur dan damai. Dewangga berdiri di sisi ranjang kecil itu, menatap putranya sejenak sebelum beralih pada Aruntala yang sedari tadi tampak gelisah memperhatikannya. Aruntala meremas jemarinya sendiri, mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal yang mengusik pikirannya sejak siang tadi. “Dewa...” panggil Aruntala lirih. “Apa benar... kau yang menarik semua investasi dan membatalkan kontrak kerja sama dengan keluarga Rengga?” Dewangga tidak langsung menjawab. Ia menegakkan tubuh, memasukkan kedua tangannya ke saku celana kainnya dengan pembawaan yang sangat tenang, seolah apa yang ditanyakan Aruntala hanyalah masalah bi

