Kehangatan yang sebelumnya lembut kini sudah terasa menyengat, menembus tirai tipis dan jatuh tepat di atas kelopak mata Aruntala. Ia mengerang pelan, tubuhnya terasa sangat berat seolah setiap persendiannya telah dipreteli dan dipasang kembali dengan posisi yang berbeda. Begitu ia membuka mata, pemandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar mewah yang luas. Ia tersentak, kesadarannya menghantam seperti godam. Ia menoleh ke samping, namun sisi ranjang yang sebelumnya ditempati oleh Dewangga kini sudah kosong menyisakan aroma maskulin Dewangga yang sangat pekat. Aruntala meraba nakas, mencari jam atau ponselnya, hingga matanya tertuju pada jam dinding besar bergaya klasik di sudut kamar. 11:45. “Ya Tuhan!” Aruntala memekik tertahan, suaranya parau dan pecah. Hampir tengah

