06. Takdir yang Kejam

969 Kata
Langit Jakarta berubah warna menjadi jingga kemerahan yang indah saat Aruntala melangkah gontai memasuki kompleks perumahan tempatnya tinggal selama setahun terakhir. Tubuhnya terasa remuk. Setelah ketegangan yang menguras emosi di rumah sakit bersama pria angkuh bernama Dewangga itu, ia harus memaksakan diri menghadiri bimbingan di kampus dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Fokusnya hancur, namun ia tidak punya pilihan selain terus melangkah menjalani kehidupan yang ia sendiri tidak tahu akan berakhir seperti apa. ​Namun, langkah Aruntala mendadak terkunci di depan gerbang rumahnya sendiri. Napasnya tercekat, dan tas selempangnya merosot jatuh ke aspal. ​Di sana, di pinggir jalan yang berdebu, tumpukan barang-barang telah terserak layaknya sampah yang tak berharga. Kardus-kardus berisi buku kuliahnya yang robek, tumpukan pakaian yang kotor terkena tanah, hingga bingkai foto USG bayinya yang sudah pecah berantakan. Aruntala menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membelalak menatap pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa martabatnya. ​“Baguslah kau sudah pulang,” suara bariton yang dingin itu muncul dari balik pagar. ​Rengga berdiri di sana dengan gaya angkuh, bersedekap d**a sambil menatap Aruntala dengan pandangan jijik. Di sampingnya, berdiri seorang wanita yang mengenakan gaun ketat—wanita yang Aruntala tahu adalah kekasih Rengga sebelum malam sialan itu terjadi. ​“Mas... apa-apaan ini?” suara Aruntala bergetar hebat. Ia melangkah mendekati tumpukan barangnya, mencoba memungut bingkai foto bayinya yang hancur. “Kenapa barang-barangkau dibuang ke jalan seperti ini?” ​“Bukankah pesanku tadi pagi sudah sangat jelas? Aku tidak ingin melihatmu lagi di rumahku,” sahut Rengga tanpa belas kasihan sedikit pun. “Ingat Tala, kau bukan lagi bagian dari rumah ini. Statusmu sudah jelas, dan aku butuh ruang ini untuk calon istriku yang sebenarnya. Jadi, ambil sampah-sampahmu ini dan pergilah ke panti asuhan tempatmu berasal.” ​Mendengar itu, hati Aruntala seolah diremas tanpa ampun. “Setidaknya beri aku waktu sampai besok, Mas.” ​“Dan menurutmu calon suamiku punya kesabaran menunggu sampai besok? Jangan harap, Tala. Kau punya kaki, kau punya mulut, cari lah tempat yang mau menampung janda penggoda sepertimu,” seloroh wanita di samping Rengga dengan tawa kecil yang mengejek. ​Rengga melangkah maju, menutup pagar besi itu dengan dentuman keras yang memekakkan telinga, tepat di depan wajah Aruntala. “Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi, Aruntala. Hubungan kita sudah selesai, sama seperti bayi sialan yang kau lahirkan itu.” “Bayi yang kau bilang sialan itu adalah bayimu, Mas. Darah dagingmu! Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?” “Kau tahu? Aku sangat bersyukur bayi itu mati karena jika tidak, aku tidak pernah sudi memiliki anak dari w*************a sepertimu!” katanya dengan begitu kejam, kemudian berbalik dan melangkah menuju rumah bersama wanita yang sejak tadi tidak lepas dari genggamannya. ​Dunia Aruntala seketika menjadi gelap. Kalimat terakhir Rengga adalah belati yang paling mematikan. Ia jatuh terduduk di antara tumpukan barang-barangnya, memeluk bingkai foto bayinya yang retak ke dadanya. Isak tangis yang sejak pagi ia tahan kini pecah tak terkendali di bawah lampu jalan yang mulai menyala redup. Sore itu, untuk terakhir kalinya, ia membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh tawa Rengga dan wanita itu yang kini sudah menghilang di balik pintu rumah yang tertutup rapat. Detik demi detik berlalu, tidak ada lagi air mata yang tersisa, hanya ada rasa sesak yang membuat napasnya terasa pendek. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, Aruntala terlihat seperti noktah kecil yang tak berarti di tengah luasnya kota Jakarta. ​Dengan jemari yang gemetar karena trauma, ia merogoh tasnya dan memesan taksi online. Ia tidak peduli lagi pada tumpukan pakaian yang kotor di jalanan. Ia hanya menyelamatkan buku-buku kuliahnya dan barang-barang kenangan bayinya ke dalam satu koper besar yang masih bisa diselamatkan. Saat taksi itu datang, sang sopir bahkan harus membantunya dengan raut iba yang serupa dengan sopir taksi pagi tadi. ​“Mau ke mana, Nona?” tanya sopir itu pelan. ​Aruntala menatap ke luar jendela, melihat rumah yang pernah ia harapkan menjadi tempatnya menua kini menjauh dan menghilang dari pandangan. “Panti Asuhan Kasih Bunda, Pak,” jawabnya parau. ​Sepanjang perjalanan, Aruntala hanya terdiam. Ia menatap lampu-lampu kota yang membias di kaca jendela karena gerimis mulai turun. Dunianya benar-benar terbalik dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Pagi tadi ia kehilangan status istri, siang tadi ia dihina oleh seorang penguasa yang begitu menakutkan, dan sore ini ia kehilangan tempat tinggal. ​Taksi berhenti di depan sebuah pagar besi hitam yang catnya mulai mengelupas, namun di balik pagar itu, cahaya lampu teras terasa begitu hangat dan mengundang. Begitu Aruntala turun, seorang wanita paruh baya dengan dress vintage sederhana keluar dari pintu depan. Itu adalah Ibu Tara, wanita yang menemukannya di depan gerbang panti ini dua puluh dua tahun yang lalu. ​“Aru? Astaga, Nak...” Ibu Tara membelalak melihat keadaan Aruntala yang berantakan, dengan mata sembab dan koper yang menyedihkan. ​Tanpa berkata apa-apa, Aruntala langsung menghambur ke pelukan Ibu Tara. Ia menyembunyikan wajahnya di pundak wanita itu, menghirup aroma minyak kayu putih dan bedak bayi yang selalu menjadi wangi khas rumah ini. Isak tangisnya yang sempat mengering kini pecah kembali, lebih hebat dari sebelumnya. ​“Ibu... aku pulang. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Bu,” rintih Aruntala di sela tangisnya. ​Ibu Tara mengusap punggung Aruntala dengan lembut, memberikan kehangatan yang selama ini tidak Aruntala dapatkan dari Rengga. “Sshhh, tenang Nak. Kau punya aku. Ini rumahmu. Masuklah, aku akan siapkan teh hangat untukmu Jangan bicara apa-apa dulu, istirahatlah.” ​Di dalam panti yang sederhana namun penuh cinta itu, Aruntala akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega. Di tengah riuh rendah suara anak-anak panti yang sudah terlelap, Aruntala merasa setidaknya ia masih memiliki satu sudut di dunia ini di mana ia tidak akan diusir. Namun, di balik rasa aman itu, Aruntala tidak tahu bahwa di luar sana, mesin kekuasaan Dewangga Langston sedang bekerja untuk membongkar setiap jengkal masa lalunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN