Ruang kerja Dewangga di lantai teratas kediaman Langston adalah sebuah definisi dari kekuasaan yang dingin. Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap dengan pencahayaan temaram yang dramatis. Di balik meja kaca besar yang dingin, Dewangga duduk bersandar, menatap lurus ke arah sebuah map kulit berwarna hitam yang baru saja diletakkan Oetman di hadapannya.
Asap tipis dari aroma kopi yang baru diseduh mengepul di udara, namun Dewangga tidak menyentuhnya sedikit pun. Pikirannya masih tertuju pada dugaan konspirasi antara wanita di rumah sakit itu dengan istrinya, Herra.
“Bacakan intinya, Oetman,” perintah Dewangga datar, tanpa mengalihkan pandangan dari map tersebut.
Oetman berdeham pelan, membuka tablet digitalnya. “Namanya Aruntala Keiya Edelweis, Tuan. Dua puluh dua tahun. Dia seorang yatim piatu yang dibesarkan di Panti Asuhan Kasih Bunda sejak bayi. Tidak ditemukan catatan mengenai orang tua kandungnya.”
Dewangga terdiam. Satu fakta terungkap, dan itu bukan hal yang ia harapkan. “Lanjutkan,” gumamnya.
“Panti itu adalah salah satu yayasan yang secara rutin menerima donasi terbesar dari keluarga Langston selama dua dekade terakhir.”
Dewangga sedikit tersentak. Jarinya yang tengah mengetuk meja mendadak terhenti.
“Lebih dari itu,” lanjut Oetman, “Aruntala juga merupakan mahasiswa semester akhir di Langston University. Dia merupakan penerima beasiswa penuh karena prestasinya yang konsisten.”
“Dan, mengenai hubungannya dengan Nyonya Herra... saya sudah memeriksa semua riwayat panggilan, transaksi perbankan, hingga lingkar pertemanan Nyonya. Hasilnya nihil, Tuan. Tidak ada satu pun benang merah yang menghubungkan Nyonya Herra dengan Aruntala. Mereka benar-benar dua orang yang berada di dunia berbeda.”
Dewangga sedikit memajukan tubuhnya, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang tak teratur. “Lalu kenapa dia bisa berada di sana dan menyusui putraku?”
“Itu karena takdir yang cukup... tragis, Tuan,” suara Oetman sedikit melembut, sesuatu yang jarang ia tunjukkan saat melapor. “Satu bulan yang lalu, Aruntala melahirkan seorang putra. Namun, bayi itu meninggal tak lama setelah dilahirkan karena komplikasi. Sejak saat itu, Aruntala mengalami surplus ASI dan memilih menjadi pendonor aktif di rumah sakit untuk menyalurkan duka laranya.”
Oetman menjeda sejenak, melihat rahang Dewangga yang mengeras. “Dan hari ini, tepat beberapa jam sebelum Tuan menemuinya di rumah sakit, Aruntala baru saja resmi diceraikan oleh suaminya. Laporan lapangan terbaru menyebutkan bahwa sore tadi, mantan suaminya membuang seluruh barang-barang Aruntala ke jalanan. Saat ini, Aruntala kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan.”
Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Dewangga yang biasanya memiliki jawaban untuk segala hal, mendadak kehilangan kata-kata. Dadanya terasa sesak oleh informasi yang cukup memengaruhi logikanya.
“Apa yang membuat suaminya menceraikannya?”
“Suaminya merupakan alumnus Langston University. Sekitar tiga tahun di atas Aruntala. Mereka menikah karena sebuah 'kecelakaan' satu malam saat acara reuni kampus yang membuat Aruntala hamil. Namun, sebulan yang lalu bayi mereka meninggal dunia tak lama setelah lahir. Karena menganggap tidak ada lagi ikatan yang menahan mereka, Rengga langsung menggugat cerai dan mengusirnya dari rumah.”
Rahang Dewangga mengeras hingga otot lehernya menegang. Ia teringat betapa kasarnya ia memperlakukan Aruntala tadi, di saat wanita itu baru saja kehilangan segalanya. Namun, laporan Oetman belum selesai.
“Satu hal lagi, Tuan. Pihak rumah sakit baru saja memberikan laporan medis terbaru mengenai Tuan Muda Elnino,” Oetman menarik napas dalam.
“Setelah menerima ASI dari Aruntala pagi tadi, kondisi Tuan Muda Elnino stabil secara signifikan. Dia tertidur lelap tanpa kolik, detak jantungnya tenang, dan untuk pertama kalinya, berat badannya menunjukkan grafik yang positif. Dokter Regan menyimpulkan... ASI Aruntala adalah satu-satunya yang cocok secara biologis dengan kebutuhan Tuan Muda saat ini.”
Mendengar laporan itu, Dewangga tersentak. Ia seperti baru saja dijatuhkan dari puncak gedung yang tinggi. Wanita yang ia usir, ia hina, dan ia larang mendekati bayinya, ternyata adalah satu-satunya harapan bagi nyawa putranya. Ada denyut bersalah yang mulai merambat di dadanya, bercampur dengan rasa posesif yang aneh.
“Oetman,” panggil Dewangga dengan suara parau.
“Ya, Tuan?”
“Cari tahu jadwal kuliah Aruntala. Aku ingin menemuinya secepatnya.”
❤️🔥❤️🔥❤️🔥
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden di rumah sakit, namun bayangan pria bermata biru itu masih sering menghantui Aruntala. Pagi ini, setelah sesi bimbingan skripsi yang melelahkan di perpustakaan kampus, Aruntala melangkah keluar menuju koridor yang mulai sepi. Ia berniat segera menuju toko bunga tempatnya bekerja paruh waktu, namun langkahnya terhenti seketika.
Di ujung koridor, bersandar pada pilar gedung yang megah, berdiri sosok yang sangat ia kenali. Pria itu tidak lagi mengenakan jas formal yang kaku, melainkan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, namun aura dominannya tetap tidak bisa disembunyikan.
Kehadirannya menarik perhatian beberapa mahasiswi yang lewat, namun tak ada satu pun yang berani menyapa. Mereka tidak tahu siapa pria itu, sama seperti Aruntala yang tidak pernah menyadari bahwa pria di hadapannya adalah pemilik marga yang tertulis di gerbang kampus mereka, Langston.
“Kita perlu bicara,” suara rendah itu memecah keheningan koridor.
Aruntala tersentak, refleks memeluk buku-bukunya lebih erat ke d**a. “Tuan? Bagaimana... bagaimana Anda bisa ada di sini?”
“Itu tidak penting. Aku bahkan bisa berada di rumahmu jika aku mau.”
Ucapan itu cukup membuat Aruntala merapatkan bibirnya. Benar, bukan hal yang sulit untuk mencari tahu data seseorang bagi orang berpengaruh seperti Dewangga, bukan? Tapi, tunggu... jika begitu, itu artinya ... pria itu, mencari tahu tentangnya, bukan?
“Anda ... Anda mencari tahu identitas saya?” tanya Aruntala hati-hati.
“Aku? Jelas tidak. Asistenku yang melakukannya.”
Sama saja, Pak Dewangga! Gerutu Aruntala dalam hati, masih sempat-sempatnya.
“Ikutlah denganku. Kita harus bicara di tempat yang lebih tenang,” pinta pria itu.
Aruntala ragu. Luka di hatinya akibat bentakan pria ini di rumah sakit beberapa hari yang lalu masih berdenyut. “Aku harus bekerja, Tuan. Dan aku juga tidak merasa ada yang perlu kita bicarakan lagi.”
Pria itu menatap Aruntala dengan sorot mata yang tetap tidak bisa dibantah. Terbiasa mengendalikan orang dan disegani, membuatnya tidak mengerti cara bersikap yang sedikit memiliki hati. Oh, dia melakukannya, hanya pada Herra sebelum wanita itu membuatnya kecewa.
“Aku tidak suka ditolak, Aru. Aku tidak akan melakukan apa pun selain bicara, jika itu yang kau takutkan.”
“Apa yang akan kita bicarakan, Tuan?”
“Kau akan tahu nanti.”
Aruntala menghela napasnya dalam. Ia terdiam lama, mencoba menimbang keputusan yang akan diambilnya. Dan setelah perdebatan batin yang cukup panjang, akhirnya Aruntala mengangguk pelan.
“Baiklah.”
Ia kemudian mengikuti langkah panjang pria itu menuju area parkir eksklusif, masuk ke dalam mobil hitam mewah yang aromanya masih sama seperti ingatannya. Maskulin dan mahal.
Mereka berkendara dalam keheningan hingga sampai di sebuah restoran Eropa ternama. Pria itu membawanya masuk ke sebuah ruangan private yang kedap suara, di mana kemewahan interiornya sempat membuat Aruntala merasa sangat kecil. Semakin memperjelas dunia sosial mereka yang berbeda.
Setelah pesanan minuman datang dan pelayan keluar, pria itu menghela napas panjang. Ia menatap Aruntala lurus-lurus.
“Pertama-tama... aku minta maaf. Atas perlakuanku di rumah sakit tempo hari, atas tuduhanku yang tidak berdasar. Dan atas sikapmu yang membentakmu di hadapan banyak orang. Aku hanya tidak suka ada orang lain yang melakukan hal tanpa seizinku.”
Aruntala tertegun. Ia tidak menyangka pria seangkuh dia bisa mengucapkan kata maaf dengan nada setenang itu. “Aku ... Aku sudah memaafkannya, Tuan. Aku juga salah karena telah lancang tapi percayalah aku hanya... ingin membantu bayi Anda. Tidak lebih.”
“Itu alasan kedua kenapa aku mencarimu,” lanjut pria itu, suaranya sedikit parau.
“Putraku, Elnino... Kau pasti sudah tahu informasinya bahwa dia menolak semua s**u formula sejak lahir. Kondisinya stabil saat meminum asimu, tapi sekarang dia kembali melemah. Dokter bilang, sejauh inj hanya asimu yang cocok secara biologis dengannya.”
Dewangga menjeda, ada keraguan di matanya sebelum ia melanjutkan. “Aru, bisakah kau ikut denganku ke rumah sakit sekarang? Aku ingin kau menyusuinya.”
Mendengar nama bayi itu disebut, hati Aruntala kembali terenyuh. Bayangan bayi mungil yang menangis hingga memerah itu terlintas di benaknya, membangkitkan kembali naluri keibuannya. Meskipun ia masih merasa asing dengan pria di hadapannya, namun rasa tak tega pada bayi itu jauh lebih besar daripada egonya.
Aruntala menatap mata biru pria itu. “Anda ... Anda mengizinkan saya memberikan asi saya untuk putra Anda?”
“Tidak. Aku tidak mengizinkanmu. Aku memintamu.”
❤️🔥❤️🔥❤️🔥