Sentuhan Dewangga yang lihai perlahan-lahan mengurai ketegangan dan rasa nyeri yang sejak tadi mencekik Aruntala. Napas Aruntala yang semula tersengal kini mulai berangsur teratur, meski rona merah di wajahnya masih sangat kontras dengan kulit lehernya yang putih. Dewangga menghentikan gerakannya sejenak, namun tangannya masih bertumpu hangat di sana. Ia sedikit mendongak, memaksa Aruntala untuk membuka mata dan membalas tatapannya. Matanya yang tajam dan biasanya sedingin es, kini memancarkan sorot yang sangat lekat dan dalam. “Lain kali kau harus lebih teliti dan jangan sampai ceroboh lagi, Aru,” ucap Dewangga dengan suara rendah yang terdengar seperti peringatan sekaligus kekhawatiran yang tulus. “Aku sudah tidak bisa selalu ada di dekatmu.” Kalimat itu bagai sembilu bagi Aruntala

