Malam itu, Aruntala baru saja menidurkan Elnino setelah sesi menyusui rutin. Ia baru saja hendak melangkah keluar dari kamar bayi saat suara gaduh dari arah lorong utama menarik perhatiannya. Aruntala keluar dan mendapati Oetman sedang memapah sosok pria dengan susah payah. Dewangga, sang penguasa yang biasanya tampak angkuh dan sempurna, kini terlihat kacau. Kemejanya berantakan, dasi hitamnya terlepas, dan matanya terpejam rapat. “Oetman? Ada apa? Kenapa Tuan Dewangga...” Aruntala segera berlari mendekat, membantu Oetman menahan beban tubuh Dewangga yang besar. “Maaf Nona Aruntala,” napas Oetman terengah-engah. “Tuan Muda tadi memiliki pertemuan bisnis dengan kolega penting. Entah mengapa, beliau minum terlalu banyak hingga berakhir seperti ini. Beliau tidak pernah semabuk ini sebe

