Suasana di antara rak-rak buku yang tinggi itu terasa semakin panas, seolah oksigen di sekitar Aruntala habis tersedot oleh keberadaan Dewangga. Namun, tepat saat Dewangga memiringkan kepalanya yang hanya menyisakan beberapa milimeter sebelum bibir mereka bersentuhan, sebuah ketukan tegas terdengar dari pintu ganda perpustakaan. Tok! Tok! Tok! “Tuan Dewangga,” suara Oetman terdengar berat dan mendesak dari balik pintu. “Mohon maaf mengganggu, tapi sekretaris Anda baru saja menelepon. Ada rapat direksi mendadak pagi ini mengenai ekspansi proyek di pusat kota.” Dewangga mematung. Rahangnya mengeras, dan kilat amarah sekaligus frustrasi muncul di matanya. Ia tidak bergerak, masih mengunci tubuh Aruntala dengan lengannya. “Batalkan, Oetman. Katakan aku sedang ada urusan pribadi,” ger

