Aku tak habis pikir dengan apa yang Gladis minta. Ingin tinggal kembali di rumah ini selama Restu mengurus perceraian. Kata-kata terakhir yang Gladis lontarkan membuat darahku mendidih seketika. Dia mengatakan juga berharap agar Restu berubah pikiran. Yang benar saja. Aku menatap tajam pada Restu. Seolah ia tahu kemarahan yang aku tunjukkan. Lelaki itu meenggaruk tengkuknya tanda sedang kebingungan. "Kalian tidak keberatan, kan, tetap membiarkan aku berada di rumah ini?" tanya Gladis kemudian. Ini bukan rumahku. Terserah pada Restu mau mengijinkan atau tidak. Toh wanita itu juga masih berstatus istrinya. "Aku ke dalam dulu. Ingin mandi," kataku, mengalihkan perhatian dan tidak ingin ikut dalam pembahasan ini. Tanpa menunggu jawaban Gladis, aku pergi meninggalkan mereka. Restu menat

