112. Pembicaraan Dua Orang Istri

1781 Kata

"Zi!" Panggilan Restu disertai dengan pintu kamar yang terbuka, mengejutkanku yang tengah berbaring miring dan sempat menangis karena kesal akan Gladis. Derap langkah kaki Restu yang mendekati ranjang tak membuatku membalikkan badan. Masih dengan posisi memunggunginya. Lesakkan pada kasur yang aku tiduri menandakan jika Restu telah ikut bergabung bersamaku di atas ranjang. Benar saja. Bagian depan tubuhnya menempel di punggungku disertai dengan tangan yang ia lingkarkan di atas perut buncitku. "Zi ... kenapa kau membiarkan Gladis memasuki ruang kerjaku dan membawakan aku teh hangat. Aku tidak suka itu, Zi! Kenapa tidak kau sendiri saja yang membawakannya untukku seperti biasa." "Dia yang menginginkan hal itu. Aku bisa apa." "Kau bisa melarangnya." "Aku tak ada hak melarangnya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN