"Ana." Anastasia tidak menoleh saat mamanya memanggil. Bukan karena tidak mendengar, melainkan tidak ingin kalau mamanya mengetahui dia habis menangis. "Anastasia!" Kakinya berhenti melangkah, kali ini mamanya memanggil dengan penekanan. Ia menghapus butiran bening yang masih tersisa di ujung mata sembabnya. "Iya, Mama." Tanpa berbalik, Ana menahan sesak di d**a. Dia tahu, jika orang tuanya melihat dia menangis, pasti itu hanya membuat cemas. "Hei, kamu kenapa? Mama panggil kamu nggak menjawab, kamu sakit?" "Enggak, Ma." Ana Menggeleng masih berusaha menghalangi mamanya agar tidak melihat wajah basah yang sejak tadi dia tutup-tutupi. Wanita paruh baya itu memutar tubuh Ana dan ia terkejut ketika mengangkat wajah Ana, gadis itu ternyata sedang menyembunyikan air mata di sana.

