Jeje menghela napas panjang. "Lea, jangan nangis. Saya nggak marah sama kamu, Lea. Saya mengerti, bagaimana pun nggak akan ada yang berubah, saya tetep suami kamu, oke?" Untuk sejenak, Lea berpikir Jeje akan menceraikannya karena ia pernah menyukai Keano. Lea mengangkat wajah, menatap Jeje lekat-lekat. Wajah itu tersenyum padanya dan itu amat melegakan. "Kamu nggak mau menceraikan aku, Mas? Kasihan Bunda, dia pasti sedih, kalau kamu-" "Ssstt.... Jangan bicara tentang perceraian..." geleng Jeje. "Mas, aku mau berusaha menerima pernikahan ini," ucap Lea lirih, dengan mata yang basah, karena bulir bening yang terus mengaliri pipinya. Jeje memeluk Lea lebih erat lagi. Pernikahan itu awalnya terasa dingin, karena sikap mereka yang cuek satu sama lain. Belum lama ini saja Jeje berusa

