Akhirnya Pahlevi Bimantara bisa merasakan minggu pagi dengan kedua cucunya, anak dan menantunya. Andre duduk di lantai dengan putranya, sibuk merakit mainan Evan yang baru dibelikan kakeknya itu. Sementara Maura duduk di sofa panjang bersama putri kecilnya. Daffa duduk menghadapi laptopnya, sementara Pahlevi menikmati pemandangan pagi itu dari tempat duduknya dengan senyum mengembang. “Evan, kamu suka tinggal di sini?” tanya Pahlevi. “Asal ada Mama sama Papa, aku bisa tinggal di mana aja. Tapi aku mungkin akan rindu dengan kamarku.” “Sekarang belum rindu kan?” “Kakek suka aku tinggal di sini?” “Tentu saja.” “Tapi akan repot sekali kalau kita harus pindah kemari ya, Pa?” Pahlevi mengernyit. “Apanya yang repot?” “Kamar aku. Buku-buku dan semua peralatanku. Juga ruang kerja Papa.”

