S2: PIKNIK

1913 Kata

Hari itu adalah Sabtu. Musim semi sedang berada di puncaknya. Udara tak dingin, tak panas, dan Paris selalu lebih ramai dibanding hari kerja sebelumnya. Belle bangun untuk kali kedua pagi itu. Tak ada alarm, bukan pula karena kelakuan acak suaminya—menjadikannya guling, konser di taman tengah, atau mengajak bicara kupu-kupu yang tengah sibuk mengumpulkan nektar. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar, lalu menutupnya kembali selama beberapa detik—menguji diri apakah ia perlu perpanjangan waktu tidur atau tidak. Di keheningan itu, Belle mendengar suara langkah Gyan di lantai kayu. Ritmenya tak teratur, seolah setiap fase lambat menandakan ia tengah memikirkan sesuatu, dan hentakan-hentakan seolah tiba-tiba ia menari. Gyan muncul di ambang pintu kamar dengan kaus abu-abu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN