Tak ada yang memburu mereka pagi itu. Belle bangun lebih dulu, disapa cahaya yang menembus tirai tipis. Matahari tak menyilaukan, sinarnya justru lembut, membuat Belle membayangkan betapa hangatnya jika sinaran itu menyentuh kulitnya. Gyan terbangun beberapa menit kemudian. Ia duduk di tepi ranjang, mengucek mata, lalu menoleh ke jendela. Ia menarik napas dalam, berjalan pelan, menyibak tirai. “Apa kita kesiangan?” tanya Gyan, ragu. Suasana di luar sana sungguh berbeda dengan Paris. Matahari bersinar lembut, tak terik seperti pagi musim panas yang akrab dengannya. Jalanan pun tampak masih lengang. “Pagi,” ralatnya. “Hmm. Sudah pagi,” jawab Belle. Gyan mengangguk. “Suasananya terlalu berbeda dengan Paris. Summer yang aneh.” “Summer yang tenang,” koreksi Belle. “Kamu harus mengubah ja

