S2: PENGALAMAN KEDUA

1269 Kata

Satu tahun kemudian. Musim panas. “Belle?” Gyan mendorong pintu kamar mandi. Namun terkunci. “Love?” “Tolong bantu aku menyiapkan sarapan,” sahut Belle. “Tapi kamu—“ “Aku tidak apa-apa.” “Kamu yakin?” “Ya.” “Apa yang kamu inginkan untuk sarapan?” tanya Gyan lagi. “Utamakan saja untukmu dan anak-anak. Aku bisa makan apa pun.” Gyan menghela napas pelan, kepalanya refleks menggeleng. “Oke. Kalau sepuluh menit kamu belum muncul di dapur, aku akan kembali memeriksamu.” Terdengar kekehan samar. “Baiklah,” jawab Belle. Pagi itu Montmartre terasa terlalu terang. Gyan membuka jendela-jendela rumah satu per satu. Tirai tipis berwarna off-white melambai pelan tertiup angin. Ia menumpu kedua tangannya di bingkai jendela dapur, memejamkan mata sejenak. Suara kota menyusup samar—bel sepeda y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN