S2: LENGKAP

1901 Kata

Matahari masih bersembunyi saat rumah keluarga Elroy di Montmartre mulai ramai oleh suara-suara menggemaskan. “Maman dan Papa tidak ada,” ujar Ranier. “Adik bayi keluar dari perut Maman,” sahut Léon. “Maman masih sakit.” “Tidak pulang?” “Tidak.” “Tidak bangun?” Ekspresi Ranier mulai cemas. “Bangun,” jawab Léon. Ia sudah cukup paham saat Gyan menjelaskan latar belakang kehadiran si kembar sebagai adiknya. Gyan bilang, ibu Ranier dan Rosé sudah meninggal — tidur dan tidak akan bangun lagi. Ia menatap jam digital di kamar orangtuanya. “Itu angka tujuh, Maman sudah bangun,” sambungnya. “Aku rindu Maman,” ujar Ranier lagi. Léon mengangguk. “Aku juga. Pépé bilang kita berangkat pagi.” “Pagi itu tujuh,” timpal Ranier. Yang ia maksud adalah pukul tujuh, waktu di mana Gyan dan Belle mulai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN