“Aku suka belanja menjelang natal,” ujar Belle. “Hmm,” tanggap Gyan. “Apa aku perlu mengambil troli lagi?” “Sepertinya tidak cukup, ya?” Gyan menepuk keningnya. Minggu pertama Desember menyapa dengan suhu yang dinginnya belum terasa kejam. Meski begitu, suasana Paris sudah lebih hening jika dibandingkan dengan musim gugur kemarin. Lampu-lampu toko sudah menyala sejak sore, jendela-jendela dipenuhi dekor Natal yang belum sepenuhnya selesai. Orang-orang berjalan lebih cepat, seolah ingin segera pulang sebelum malam benar-benar jatuh. Belle berdiri di depan rak pakaian bayi, satu tangannya menggenggam mantel, tangan lainnya menyentuh kain lembut berwarna krem pucat. “Yang ini halus,” ujarnya. Céleste mengangguk, mendekat. “Kainnya bagus. Tidak akan membuat kulitnya iritasi.” Vittore be

