Tiara dipindahkan ke kamar pemulihan eksklusif, sebuah suite mewah dengan pengawasan medis 24 jam. Tubuhnya terasa lemas, setiap otot seperti baru saja menyelesaikan maraton. Namun, kelelahan itu terbayar lunas. Abimana tidak meninggalkan sisinya. Setelah memastikan semua prosedur medis selesai, ia duduk di kursi berlengan di samping ranjang Tiara, menggenggam tangan istrinya. Ia membiarkan tim perawat membersihkan dan mengatur kamar, sementara ia fokus pada Tiara. "Kau tidur sebentar, Sayang," bisik Abimana, mengelus rambut Tiara yang basah oleh keringat. Wajahnya, yang biasanya tegang dan penuh perhitungan, kini terlihat lembut dan lega. Tiara memejamkan mata, merasakan kenyamanan dan keamanan dari kehadiran Abimana. Ia berhasil melewati ujian terberat. "Aku sangat lelah, Mas," gumam

