Abimana, dengan naluri seorang pemimpin yang terlatih, terbangun sedikit sebelum alarmnya berbunyi. Ia membuka mata, merasakan beban lembut dan hangat di lengannya. Ia tersenyum puas, memandang Tiara yang terlelap di pelukannya. Wajah istrinya tampak damai, jejak kepuasan mendalam terlihat jelas. Hukuman semalam telah berhasil menegaskan kembali kepemilikannya. Ia sudah membuat Tiara benar-benar lupa akan pesona Patung Yunani kecil mana pun. Abimana perlahan menggeser tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari pelukan Tiara tanpa mengganggu tidurnya. Ia perlu segera mandi dan mempersiapkan diri untuk rapat penting yang menanti. Tepat saat ia hendak bangkit, lengan Tiara melingkari pinggangnya lebih erat. "Mau ke mana, Mas," bisik Tiara, suaranya serak dan manja, mencengkeram lengan Abiman

