Setelah pelepasan emosional yang intens di ranjang, napas Abimana dan Tiara masih memburu. Keringat dan kelegaan melumuri kulit mereka. "Bangun," perintah Abimana serak, suaranya penuh kepastian. Ia tidak bertanya, ia menuntut. Ia mengangkat Tiara dalam sekali rengkuhan. Tiara tertawa pendek, suaranya gatal dan manja. "Ke mana lagi, Mas? Badanku lemas." "Ke kamar mandi. Aku mau kamu bersih," jawab Abimana, tatapannya membakar. "Tapi pertama, aku akan membuatmu kotor lagi." Abimana membawa Tiara ke kamar mandi utama. Uap segera mengisi ruangan begitu ia memutar keran pancuran hingga deras. Ia menurunkan Tiara ke lantai marmer yang dingin, kemudian segera menariknya ke bawah guyuran air hangat. "Dingin sekali," rengek Tiara, berusaha memeluk Abimana, tubuhnya menggigil saat air menyentu

