Tiara membatu, wajahnya berubah pucat. Jantungnya mendadak berdetak sangat keras. "Vanila, dia di Jakarta?" Suster Suki menatap Tiara dengan khawatir, tapi tetap tenang. "Nona Tiara, biar saya bawa Biantara ke box-nya dulu." Tiara dengan hati-hati menyerahkan Bian kepada Suster Suki. Begitu tubuh mungil itu aman di boksnya, wajah Tiara langsung berseri-seri, seolah ia baru memenangkan lotre. “Ya ampun, Suster! Ini Vanila! Sahabatku! Dia di Jakarta!” seru Tiara, kegugupan sebelumnya sirna digantikan kebahagiaan murni. Ia langsung menari-nari kecil di tempatnya. Ia mengambil napas panjang, lalu mengetik balasan dengan kecepatan tinggi, jari-jarinya yang tadi gemetar kini penuh semangat. Tiara: Ya ampun, Vanilla! Aku kangen banget! Aku nggak ganti nomor, cuma nggak aktif aja. Nanti a

