Pintu apartemen mewah itu terbuka perlahan, dan langkah kecil Ardan langsung terdengar lebih dulu, disusul Vanila yang menggenggam tangannya erat. Adrian berjalan di belakang mereka dengan sikap tenang dan rapi seperti biasa. Begitu pandangan Tiara menangkap sosok Vanila, seluruh ekspresi wajahnya berubah dalam sekejap. Matanya membulat, lalu menghangat, dan tubuhnya bergerak nyaris refleks. Vanila belum sempat bicara apa pun ketika Tiara sudah berdiri di depannya, memeluknya erat tanpa ragu, tanpa jeda, tanpa canggung, seperti tidak pernah terpisah lama. Tiara menghela napas panjang di bahu sahabatnya. “Vanila, setelah sekian lama, aku kangen banget sama kamu.” Vanila terkekeh pelan sambil mengusap punggung Tiara dengan lembut. “Aku juga, Ra. Kamu bikin aku deg-degan tahu. Ngilang l

