Tiara berlari kecil menuju kamar mandi vila. Ia nyaris tidak sempat menutup pintu ketika muntah pertamanya pecah. Suara itu menggema di ruang yang tenang, memecah damai pagi Fiji yang tadi tampak sempurna. Abimana menyusul cepat. Ia menahan rambut Tiara agar tidak jatuh ke depan, tangan satunya memegang bahu istrinya dengan mantap. Tiara terbatuk pelan setelah muntahnya mereda. “Tiara, tarik napas pelan. Jangan paksa tubuhmu,” ucap Abimana. Suaranya tenang meskipun matanya memantau setiap gerakan Tiara. “Aku tidak mengerti kenapa mendadak seperti ini,” kata Tiara dengan suara serak. “Perutku masih terasa melilit.” Abimana mengambil handuk kecil, membasahinya sebentar, lalu menyeka sudut bibir dan pipi Tiara dengan lembut. “Kita kembali ke tempat tidur. Kamu butuh berbaring.” “Aku taku

