Tiara terbangun dengan napas tersengal kecil. Tubuhnya masih diwarnai sisa rasa tidak nyaman yang menempel sejak mimpi buruk tentang Clarisa yang menjerat lehernya. Ia meraba lehernya refleks, seakan bayangan itu masih ada di sana. Kamar itu sunyi. Abimana tidak ada di tempat tidurnya. Namun bantal di sisi kirinya tampak masih hangat. Tiara menarik selimut hingga ke d**a, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri. Ia menatap ke arah balkon yang tertutup, kemudian mengalihkan pandangan ke pintu kamar yang sedikit terbuka. Aroma roti gandum panggang dan mentega hangat mengalir pelan dari luar kamar. Ada harum kopi yang tidak terlalu tajam. Ada sentuhan wangi thyme dan sedikit lemon. Tiara mengerutkan alis, bingung, tetapi tubuhnya bergerak pelan turun dari tempat tidur. Ia berjalan ke l

