Wajahnya yang biasanya kaku dan tanpa emosi langsung pucat pasi, hanya ada kepanikan murni di mata emasnya. Dia tidak menunggu jawaban. Dalam sepersekian detik, dia sudah berada di belakang Tiara. Dia dengan hati-hati menyapu Tiara ke dalam gendongannya, mengangkat tubuh mungil istrinya seperti boneka porselen, tanpa peduli dengan perut Tiara yang kini berada tepat di depan dadanya. “Tahan sebentar, Ratu. Tahan sebentar,” bisik Abimana, suaranya gemetar. Dia berjalan cepat, hampir berlari, keluar dari kamar bayi, menyusuri koridor marmer, dan menuju kamar tidur utama. Pikirannya dipenuhi gambaran terburuk. Komplikasi, kontraksi prematur, sesuatu yang salah dengan Tiara atau bayi mereka. Ketakutannya begitu besar, ia bahkan tidak berpikir untuk memanggil tim medisnya. Naluri pertamanya ad

