Setelah panggilan video dengan Biantara berakhir, suasana di dek vila pribadi itu kembali hening, namun tidak sepenuhnya tenang. Abimana masih berdiri tegak, menatap ke arah samudra Hindia dengan tangan yang bertumpu pada pagar pembatas. Rahangnya sesekali mengeras, tanda bahwa meski laporan Bian sudah masuk, insting protektifnya sebagai ayah belum sepenuhnya padam. "Mas Abi," panggil Tiara lembut. Ia mendekat, lalu melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, menyandarkan kepalanya di punggung kokoh pria itu. "Dengar sendiri kan? Bian bilang semuanya terkendali. Tidak perlu pasang wajah menakutkan begitu terus." Abimana menghela napas kasar, namun ia tidak berbalik. "Aku tetap tidak suka, Tiara. Romansa macam apa yang dimulai dengan air mata? Aku tidak pernah membuatmu menangis ket

