Biantara menghela napas panjang lalu melempar ponselnya ke atas meja kerja. Ia memijat keningnya yang terasa pening. Baginya, urusan keluarga jauh lebih melelahkan daripada harus berhadapan dengan musuh bisnis atau negosiasi kontrak bernilai jutaan dolar. Ia kembali teringat ucapan mamanya tentang perasaan dan klaim Leonel bahwa Tiana mulai jatuh cinta. Biantara mendengus remeh. Ia tidak habis pikir bagaimana orang-orang di sekitarnya bisa begitu menikmati drama perasaan yang tidak masuk akal. Baginya, cinta hanyalah gangguan yang mengacaukan pikiran sehat. Biantara bangkit dari kursinya dan berjalan menuju bar kecil di sudut ruangannya. Ia menuangkan minuman ke dalam gelas kristal, mendengarkan bunyi es batu yang beradu. Pikirannya melayang pada sosok wanita yang baru-baru ini terus

