Tiara terbangun dengan perasaan yang luar biasa ringan, rasa lega dan cinta telah sepenuhnya mengusir beban trauma semalam. Ia meraih bantal, mencium aroma Abimana yang masih melekat di sana. Tiara menoleh ke samping. Sesuai dugaannya, ranjang sudah kosong. Abimana, sang CEO galak yang baru semalam berjanji menunda dunianya, tentu saja sudah kembali ke mode kerjanya. Pakaian mereka semalam—jas mahal, kemeja rapi, dan blus sutra—berserakan di lantai, menjadi satu-satunya bukti nyata betapa tidak efisiennya mereka semalam. Tiara bangkit, melingkarkan selimut di tubuhnya, dan berjalan menuju jendela. Ia menemukan Abimana berdiri di balkon, mengenakan kaus v-neck hitam dan celana bahan yang santai. Abimana sedang berbicara di telepon, nada suaranya tegas, kembali ke mode komando. "Ya, aku s

