"Aku sudah cek, Mas. Dokternya bilang aman, artikelnya bilang disarankan,” bisik Tiara, suaranya lebih rendah dan menggoda. Ia menarik ponsel itu kembali, lalu merangkak sedikit mendekat ke Abimana yang masih berlutut di depannya. Wajah Tiara kini sangat dekat. Pandangannya yang penuh arti bertemu dengan mata Abimana yang mulai menggelap. “Aku merindukannya, Mas. Aku rindu sekali dimasuki olehmu. Biantara sudah lahir dengan selamat. Sekarang giliran adiknya yang butuh stimulasi kecil dari ayahnya, mungkin?” Tiara menyentuh kancing kemeja Abimana, tatapannya menantang dan memohon secara bersamaan, mengubah suasana apartemen yang penuh ketegangan keamanan menjadi ruang privat yang panas. Tiara terkekeh melihat reaksi Abimana yang sedikit terkejut namun matanya masih memancarkan gairah ya

