Napas Tiara tersengal saat Abimana melepaskan ciuman pertama yang menuntut itu. Keheningan apartemen yang dijaga ketat seketika terasa dipenuhi denyut gairah. Abimana tidak memberi waktu bagi Tiara untuk bicara lagi. Ia segera menyingkirkan kemejanya yang baru dikenakannya, lalu beralih merobek daster yang dikenakan Tiara, bukan karena kasar, tetapi karena dorongan hasrat yang tak tertahankan. βMasβ¦ pelan-pelan,β desah Tiara, namun suaranya penuh antisipasi. βTidak ada kata pelan, Sayang. Kamu pantas dihukum karena memaksaku kehilangan wibawa,β balas Abimana, suaranya kini seperti geraman rendah. Abimana tahu ia harus berhati-hati. Perut Tiara yang membesar menjadi pengingat konstan akan batas yang tidak boleh ia langgar, tetapi izin dari Dokter Elena telah memberinya lampu hijau untuk

