Semua kemewahan telah lenyap. Clarisa kini meringkuk di sudut sebuah kamar kos sempit di pinggiran kota, beraroma apek dan lembap. Jendela kecil di atas kepalanya hanya menyajikan pemandangan dinding kusam. Kamar itu terasa mencekik, kontras tajam dengan apartemen mewah dan pesta champagne yang dulu menjadi makanannya sehari-hari. Dia membenci semua ini. Dia membenci kasur tipis yang membuat punggungnya sakit, dia membenci suara bising dari jalanan, tapi yang paling dia benci adalah kenyataan bahwa semua ini terjadi karena Tiara. "Tiara si jalang itu," bisiknya dengan gigi terkatup. Clarisa meraih ponsel murahan yang ia beli di pasar loak. Jari-jarinya gemetar saat mencari kontak Trixie. Ia butuh teman. Ia butuh seseorang yang bisa membantunya kembali. Tuut... tuut... Panggilan diangk

